Sekolah semestinya menjadi “rumah kedua” yang menghadirkan rasa aman untuk anak, bukan ruang yang menyisakan ketakutan.
Semangat mewujudkan sekolah ramah anak ini mengemuka dalam Bimbingan Teknis Satuan Pendidikan Ramah Anak yang PP Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) gelar di Aula Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT), Kabupaten Jombang, Rabu (26/8/2026).
Acara ini mengusung tema “Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman”.
Bimtek Sekolah Ramah Anak Diikuti Ratusan Pendidik Jombang
Kegiatan berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.
Sekitar 100 peserta dari satuan pendidikan tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK se-Jombang ikut ambil bagian. Peserta terdiri atas kepala sekolah, guru bimbingan dan konseling (BK), serta wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
PP PERGUNU bertindak sebagai penyelenggara, sementara PC PERGUNU Kabupaten Jombang menjadi panitia pelaksana.
Dr. H. Heri Kuswara, M.Kom., Dosen Tetap Universitas BSI Jakarta sekaligus Ketua OKK PP PERGUNU dan Anggota Pokja Pendidikan KPAI Pusat, memandu jalannya bimtek.
Dua narasumber utama mengisi acara: Dr. H. Aris Adi Leksono, M.M.Pd., Ketua KPAI Pusat sekaligus Sekretaris Umum PP PERGUNU, dan Achmad Zuhri, M.I.Kom., Wakil Ketua Umum PP PERGUNU sekaligus Dosen Tetap Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Materi Perlindungan Anak dan Pencegahan Kekerasan di Sekolah
Pada sesi pertama, Aris Adi Leksono menguraikan pentingnya membangun satuan pendidikan yang berpihak pada keselamatan dan perlindungan anak.
Ia mengajak peserta memahami persoalan kekerasan yang bisa muncul di lingkungan sekolah, aturan perlindungan anak, hingga langkah pencegahan yang sekolah bisa terapkan.
Pembahasan turut menyentuh konsep Tri Pusat Pendidikan, antara lain keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam proses pendidikan sekaligus perlindungan anak.
Ketiga unsur ini perlu berjalan bersama, supaya lingkungan tumbuh kembang peserta didik aman tidak hanya di sekolah, tetapi juga dapat dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar.
Peserta juga mendapat gambaran mengenai skema pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak (PPA).
Pemahaman soal jalur pelayanan dan penanganan ini diharapkan membantu tenaga pendidik mengenali mekanisme yang bisa mereka tempuh saat menemukan kasus kekerasan atau persoalan perlindungan anak.
Pendidikan Karakter Jadi Pilar Sekolah Ramah Anak
Sesi berikutnya, Achmad Zuhri membahas pendidikan karakter. Materinya menitikberatkan pada peran sekolah membentuk kepribadian peserta didik lewat proses pembelajaran, keteladanan pendidik, pembiasaan perilaku positif, serta budaya sekolah yang konsisten.
Pendidikan karakter dalam konteks ini tidak sebatas pada materi yang guru sampaikan di ruang kelas. Nilai-nilai yang ingin sekolah tanamkan kepada peserta didik juga perlu tampak dalam perilaku pendidik dan tata kehidupan sehari-hari di sekolah.
Dengan begitu, lingkungan pendidikan bisa mendukung perkembangan akademik sekaligus sosial dan emosional anak.
Sebelum acara dimulai, seluruh peserta mengikuti registrasi lebih dulu. Mereka juga menerima buku berjudul Urgensi Satuan Pendidikan Ramah Anak, karya Aris Adi Leksono dan Moh. Faiz Maulana.
Buku ini jadi bahan pengayaan bagi peserta untuk memahami prinsip dan penerapan pendidikan ramah anak.
PERGUNU Ajak Sinergi Sekolah Dukung Program Perlindungan Anak
Uswatun Khasanah dari PC PERGUNU Kabupaten Jombang membuka acara. Sementara itu, Ketua PC PERGUNU Kabupaten Jombang, Prof. Dr. KH. Mokh. Fakhruddin Siswopranoto, Ph.D., mengisi sambutan penutup dan menekankan pentingnya dukungan pimpinan satuan pendidikan.
“Dukungan dari satuan pendidikan diperlukan untuk memperkuat sinergi dalam kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan profesi guru,” katanya.
Ia berharap kepala sekolah bisa memberi ruang dan dukungan terhadap berbagai kegiatan PERGUNU yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan maupun profesionalitas pendidik.
Sinergi organisasi profesi dan satuan pendidikan dinilai penting untuk memperluas manfaat program, baik bagi guru maupun peserta didik.
Pada akhirnya, bimtek ini menegaskan satu hal: mewujudkan sekolah ramah anak butuh lebih dari sekadar aturan tertulis.
Pencegahan kekerasan, perlindungan peserta didik, penguatan pendidikan karakter, serta keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu bergerak bersama, agar budaya pendidikan yang aman dan nyaman benar-benar terwujud di Kabupaten Jombang.




