Gelar sarjana selama ini dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan yang lebih baik. Namun, realitas pasar kerja Indonesia menunjukkan cerita berbeda. Pada Februari 2025, lebih dari 1 juta lulusan universitas tercatat menganggur. Angka ini menjadi alarm bahwa persoalan ketenagakerjaan Indonesia bukan sekadar soal jumlah lapangan kerja, tetapi juga tentang ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri.
Krisis yang Lebih Dalam
Data pengangguran terbuka belum sepenuhnya menggambarkan persoalan. Ada kelompok pencari kerja yang akhirnya berhenti mencari karena merasa peluang kerja terlalu kecil atau keterampilannya tidak sesuai kebutuhan pasar. Fenomena discouraged workers ini menunjukkan adanya persoalan struktural dalam pasar kerja.
Di sisi lain, terjadi mismatch antara pendidikan dan pekerjaan. Penelitian berbasis Sakernas menunjukkan sekitar 33,5 persen pekerja lulusan pendidikan tinggi bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak lulusan akhirnya bekerja bukan karena pekerjaannya sesuai kompetensi, melainkan karena pekerjaan itulah yang tersedia.
Industri Berubah, Pendidikan Tertinggal
Perubahan teknologi membuat persoalan semakin kompleks. Otomatisasi, kecerdasan buatan, dan digitalisasi mengubah kebutuhan tenaga kerja. Pada saat yang sama, industri padat karya menghadapi tekanan berat. Kasus Sritex, misalnya, berujung pada lebih dari 11 ribu pekerja kehilangan pekerjaan.
Persoalannya bukan semata-mata apakah mesin akan menggantikan manusia. Yang lebih penting adalah apakah tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi ketika sebagian tugas manusia mulai digantikan teknologi.
Kampus karena itu dituntut lebih responsif terhadap perubahan industri. Kurikulum, keterampilan digital, pengalaman kerja, dan hubungan dengan dunia usaha harus diperkuat agar lulusan tidak mengalami kesenjangan kompetensi ketika memasuki pasar kerja.
Pertumbuhan Ekonomi Belum Tentu Menciptakan Banyak Pekerjaan
Indonesia tetap mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen pada 2025. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu menghasilkan lapangan kerja dalam jumlah yang sebanding.
Investasi dan teknologi dapat meningkatkan produksi melalui penggunaan modal dan mesin, tanpa membutuhkan tambahan pekerja dalam jumlah besar. Inilah salah satu wajah jobless growth: ekonomi tumbuh, tetapi penciptaan pekerjaan berlangsung lebih lambat.
Situasi tersebut menjadi tantangan serius di tengah bonus demografi. Jutaan penduduk usia produktif membutuhkan pekerjaan yang bukan hanya tersedia, tetapi juga produktif dan layak.
Tiga Pilar Harus Bergerak Bersama
Pertama, dunia pendidikan harus lebih adaptif terhadap kebutuhan industri tanpa kehilangan fungsi akademiknya.
Kedua, dunia usaha perlu tidak hanya mengejar efisiensi melalui teknologi, tetapi juga memberikan ruang reskilling dan upskilling bagi pekerja.
Ketiga, pemerintah harus memastikan pertumbuhan ekonomi, kebijakan industri, investasi, dan pendidikan berjalan dalam satu arah: menciptakan pekerjaan produktif.
Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata terlalu banyak sarjana. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah struktur ekonomi Indonesia mampu memanfaatkan jutaan manusia terdidik yang terus bertambah?
Sebab keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari berapa banyak sarjana yang diluluskan. Ukuran akhirnya adalah seberapa banyak dari mereka yang dapat bekerja secara produktif, memperoleh penghasilan layak, dan menggunakan ilmunya untuk membangun perekonomian.




