Tradisi Ojung, Kesenian Adu Ketangguhan yang Hampir Punah

Ribuan warga memadati Cagar Budaya Pelindungan Jepang, Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember.

Mereka datang menyaksikan kebangkitan tradisi ojung yang sempat hampir punah.

Pemerintah Desa Cakru menggelar acara ini dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ratusan pendekar ikut ambil bagian, tidak hanya dari Jember, tapi juga dari Kabupaten Lumajang.

Tradisi Ojung, Kesenian yang Nyaris Hilang Puluhan Tahun

Ojung merupakan kesenian sekaligus tradisi adu fisik yang nyaris hilang selama puluhan tahun. Tradisi ini sempat tidak muncul selama beberapa dekade, sehingga banyak generasi muda bahkan tidak mengenal namanya.

Kini, tradisi ojung kembali tampil terbuka di tengah masyarakat.

Kebangkitan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan leluhur kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, yang meliputi Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, hingga Probolinggo.

Camat Kencong, Ronny Arvianto, turut hadir dan menyampaikan apresiasi mendalam atas kebangkitan tradisi ini.

“Ojung memang sudah hampir punah. Saya sangat mengapresiasi tradisi nenek moyang kita ini. Ojung berhasil diangkat kembali, sehingga generasi muda bisa tahu bahwa ada kearifan budaya lama yang hampir hilang, salah satunya yaitu tradisi Ojung,” ujarnya.

Makna Tradisi Ojung dari Ritual Hujan hingga Tolak Bala

Tradisi ojung tidak sebatas adu kekuatan semata. Sejak zaman dahulu, tradisi ini berakar dari ritual sakral masyarakat untuk memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau panjang.

Selain itu, masyarakat juga memercayai ojung sebagai sarana tolak bala, sekaligus wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan keselamatan yang mereka terima.

Nilai dalam tradisi ojung sangat mulia, yaitu menjunjung tinggi sportivitas, keberanian, dan ketangguhan, sekaligus mempererat persaudaraan tanpa menyisakan dendam.

Meski berupa adu pukul, semangatnya bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan menguji ketabahan dan kejantanan dalam semangat persatuan.

Begini Aturan Main Tradisi Ojung

Aturan main tradisi ojung mulai dengan dua pria atau pendekar secara bergantian. Mereka menggunakan senjata berupa batang rotan sepanjang sekitar 1,5 meter, yang berfungsi sekaligus sebagai alat pukul dan penangkis.

Sabetan rotan ke bagian punggung lawan, sementara pihak lawan berusaha menangkis serangan tersebut. Pertandingan dipimpin seorang wasit yang sekaligus bertindak sebagai penilai.

Yang paling menunjukkan nilai luhur tradisi ojung ada di penutup setiap ronde.

Setelah waktu habis, kedua peserta wajib saling berangkulan dan bermaafan sebagai tanda perdamaian dan tidak ada rasa permusuhan di antara mereka.

Kekuatan fisik diuji, namun hati tetap bersaudara.

Harapan Tradisi Ojung Jadi Agenda Budaya yang Lebih Besar

Ronny berharap tradisi ojung tidak hanya menjadi hiburan sesaat di tingkat desa.

“Saya berharap kegiatan Ojung ini bukan hanya menjadi kegiatan lokal Desa Cakru saja, tetapi bisa berkembang menjadi agenda tingkat kabupaten, bahkan hingga ke tingkat nasional. Semoga Ojung tidak hanya digelar setahun sekali, tetapi dalam setiap even penting di daerah ini, Ojung selalu hadir sebagai identitas budaya kita,” harapnya.

Antusiasme warga terlihat luar biasa tinggi.

Pesisir area Cagar Budaya Pelindungan Jepang penuh penonton dari berbagai penjuru yang menyaksikan ketangguhan para pendekar beradu sabetan rotan dengan penuh keberanian, namun tetap menjaga semangat persaudaraan.

Banyak pengunjung muda mengaku baru pertama kali melihat tradisi ojung secara langsung.

Mereka merasa bangga sekaligus terkesan dengan kekayaan budaya daerah yang ternyata begitu dalam. Dengan munculnya kembali tradisi ojung di Desa Cakru. Harapannya, warisan yang sempat hilang puluhan tahun ini tidak lagi terlupakan, melainkan terus terjaga, berkembang, dan diwariskan ke generasi penerus.

Tags :

Subscribe To Our Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.

    Tentang Kami

    Hadir untuk memberikan informasi yang berimbang, jernih, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami percaya bahwa setiap sudut pandang memiliki ruang untuk didengar, sementara kebenaran harus tetap menjadi pijakan utama.

    Jurnalisme kami tidak ditujukan untuk membenarkan atau menyudutkan pihak tertentu, melainkan untuk membuka ruang dialog, mempertemukan perspektif, dan menghadirkan pemahaman

    Alamat

    ©2026 satuporos. All rights reserved.