Kapan Butuh Behel? Dokter Spesialis UMY Luruskan Mitosnya

Kawat gigi atau behel masih sering dianggap sebagai bagian dari tren penampilan, terutama di kalangan remaja.

Padahal, banyak orang belum tahu kapan butuh behel yang sesungguhnya.

Dokter Gigi Spesialis Ortodonti FKG UMY, drg. Puspitarini Nindya Wardana, Sp.Ort., meluruskan sejumlah mitos soal behel dalam talk show kesehatan gigi di Auditorium Graha Bhumi Phala, Temanggung, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari Community Service #3 FKG UMY yang menyasar pelajar dan masyarakat umum.

Kapan Butuh Behel? Ini Kondisi yang Jadi Indikasi Medis

Puspitarini menegaskan, tidak semua orang membutuhkan behel.

“Klaim bahwa semua orang perlu behel itu mitos. Penggunaan behel itu harus ada indikasi medis,” ujarnya.

Lantas, kapan butuh behel sebenarnya? Beberapa kondisi yang bisa jadi pertimbangan antara lain gigi berjejal, jarak antargigi yang tidak normal, serta masalah gigitan seperti gigitan dalam, gigitan terbuka, dan gigitan silang.

Meski begitu, kondisi-kondisi tersebut tetap perlu pemeriksaan dokter gigi.

Tujuannya untuk menentukan apakah pasien benar-benar membutuhkan behel, sekaligus jenis perawatan yang sesuai.

Masyarakat disarankan berkonsultasi dulu sebelum memutuskan pasang behel, sebab perawatan ini harus mengikuti kebutuhan dan kondisi kesehatan gigi masing-masing pasien.

Behel Tidak Bikin Pipi Tirus, Ini Faktanya

Salah satu mitos populer soal behel: pemakaiannya bisa membuat pipi tampak lebih tirus. Puspitarini membantah anggapan ini.

“Behel itu tidak dapat menjadikan pipi tirus. Kalaupun ada perubahan wajah, itu karena pencabutan gigi,” ungkapnya.

Perubahan bentuk wajah selama perawatan, jika memang terjadi, bergantung pada kondisi gigi dan rahang, serta tindakan yang dokter lakukan bukan efek langsung dari kawat gigi itu sendiri.

Puspitarini juga mengingatkan agar masyarakat tidak memilih tempat pemasangan behel hanya berdasarkan harga murah.

Pemeriksaan awal, kualitas bahan, perencanaan perawatan, dan kompetensi tenaga yang menangani sama pentingnya untuk menjaga keamanan proses perawatan.

Kawat Kencang Bukan Berarti Gigi Cepat Rapi

Mitos lain yang sering beredar: semakin kuat tekanan kawat, semakin cepat gigi jadi rapi. Faktanya, pergerakan gigi butuh proses bertahap dan tidak bisa dipaksakan.

“Kalau kontrol rutin setiap bulan, pergerakan maksimalnya sekitar satu milimeter. Kalau terlalu dikejar, itu justru enggak bagus,” kata Puspitarini.

Tekanan berlebih pada kawat gigi berpotensi menimbulkan masalah baru, bukan mempercepat hasil perawatan.

Karena itu, rasa sakit atau tekanan yang lebih kuat bukan indikator bahwa perawatan behel berjalan makin efektif. Pasien perlu sabar mengikuti jadwal kontrol sesuai anjuran dokter.

Setelah Behel Lepas, Retainer Masih Wajib

Banyak orang mengira perawatan selesai begitu behel lepas. Puspitarini mengingatkan, pasien biasanya masih perlu retainer untuk mempertahankan posisi gigi yang sudah rapi.

Pola dan lama pemakaian retainer bisa berbeda pada tiap pasien, tergantung kondisi gigi masing-masing.

Karena itu, penggunaannya perlu mengikuti anjuran dokter, bukan berdasar perkiraan sendiri.

Dari seluruh penjelasan Puspitarini, satu benang merah yang jelas: behel bukan sekadar aksesori penampilan.

Sebelum memutuskan kapan butuh behel, langkah paling tepat adalah memeriksakan kondisi gigi ke dokter gigi terlebih dahulu. Dengan begitu, perawatan yang dijalani benar-benar sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.

Tags :

Subscribe To Our Newsletter

No spam, notifications only about new products, updates.

    Tentang Kami

    Hadir untuk memberikan informasi yang berimbang, jernih, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami percaya bahwa setiap sudut pandang memiliki ruang untuk didengar, sementara kebenaran harus tetap menjadi pijakan utama.

    Jurnalisme kami tidak ditujukan untuk membenarkan atau menyudutkan pihak tertentu, melainkan untuk membuka ruang dialog, mempertemukan perspektif, dan menghadirkan pemahaman

    Alamat

    ©2026 satuporos. All rights reserved.