Di tengah derasnya digitalisasi pendidikan, Swedia justru mengambil langkah untuk kembali memperkuat penggunaan buku cetak, membaca, dan aktivitas belajar tanpa layar di sekolah. Perubahan ini bukan berarti teknologi sepenuhnya ditinggalkan, melainkan menjadi bagian dari evaluasi terhadap sejauh mana perangkat digital benar-benar membantu proses belajar siswa.
Pemerintah Swedia sejak beberapa tahun terakhir mendorong kebijakan yang lebih menekankan kemampuan dasar, terutama membaca, menulis, dan berhitung. Dalam kebijakan pendidikannya, pemerintah menilai kemampuan membaca dan memahami bacaan merupakan fondasi bagi pembelajaran di berbagai mata pelajaran. Karena itu, penggunaan perangkat digital diharapkan dilakukan pada usia dan situasi ketika teknologi benar-benar mendukung, bukan justru menghambat pembelajaran.
Salah satu langkah konkretnya adalah memperkuat kembali ketersediaan buku teks di sekolah. Pemerintah Swedia mengalokasikan sekitar 685 juta krona pada 2023, 658 juta krona pada 2024, dan 755 juta krona pada 2025 untuk dukungan pembelian buku teks dan panduan guru. Untuk 2026 dan tahun-tahun berikutnya, pemerintah mengalokasikan 555 juta krona. Target yang ditekankan pemerintah adalah mendekati prinsip satu buku teks untuk setiap siswa dan mata pelajaran.
Perubahan tersebut juga diperkuat melalui regulasi. Sejak 1 Juli 2024, aturan pendidikan Swedia memperjelas hak siswa untuk memperoleh buku teks, bahan ajar, serta perangkat pembelajaran yang dibutuhkan. Dengan demikian, buku teks tidak lagi sekadar menjadi pelengkap di tengah berbagai sumber digital, tetapi ditempatkan sebagai bagian penting dari perangkat pembelajaran siswa.
Dari Tablet Kembali ke Buku
Perubahan arah tersebut terlihat lebih jelas pada pendidikan anak usia dini. Pemerintah Swedia merevisi kurikulum prasekolah yang mulai berlaku pada 1 Juli 2025. Dalam kurikulum baru tersebut, tidak ada lagi kewajiban menggunakan perangkat pembelajaran digital. Sebaliknya, alat belajar yang digunakan di prasekolah terutama diarahkan pada perangkat analog, sementara membaca nyaring, perkembangan bahasa, bermain, dan aktivitas fisik mendapatkan penekanan lebih kuat.
Badan Pendidikan Nasional Swedia, Skolverket, menjelaskan bahwa guru prasekolah memperoleh tanggung jawab yang lebih besar untuk memilih metode dan perangkat pembelajaran berdasarkan landasan ilmiah serta pengalaman yang telah terbukti. Penggunaan perangkat digital tetap dimungkinkan apabila memiliki nilai pedagogis yang jelas.
Dengan kata lain, kebijakan tersebut tidak secara sederhana memosisikan teknologi sebagai sesuatu yang harus dihapus dari ruang kelas. Yang berubah adalah cara memandang teknologi: dari sesuatu yang sebelumnya didorong secara luas menjadi alat yang penggunaannya perlu dipilih berdasarkan kebutuhan dan manfaat pembelajaran.
Kekhawatiran terhadap Pembelajaran Berbasis Layar
Perubahan kebijakan Swedia muncul di tengah kekhawatiran mengenai meningkatnya penggunaan perangkat digital dalam pendidikan. Pemerintah Swedia menyebut sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan tanpa layar dapat memberikan kondisi yang lebih baik bagi anak untuk berkonsentrasi, membangun hubungan sosial, serta mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.
Laporan Associated Press pada 2023 juga menggambarkan perubahan yang terjadi di sejumlah sekolah Swedia. Guru mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap buku cetak, membaca dalam suasana tenang, dan latihan menulis tangan, sementara penggunaan tablet serta aktivitas berbasis internet dibuat lebih selektif.
Salah satu latar belakang yang ikut diperhatikan adalah penurunan skor membaca siswa kelas empat Swedia dalam studi PIRLS. Rata-rata skor Swedia turun dari 555 pada 2016 menjadi 544 pada 2021. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa penggunaan perangkat digital merupakan penyebab penurunan kemampuan membaca. AP juga mencatat adanya faktor lain yang mungkin berpengaruh, termasuk dampak pandemi dan perubahan komposisi siswa.
Bukan Pertarungan Buku Melawan Teknologi
Organisasi seperti OECD juga menunjukkan bahwa persoalan penggunaan teknologi di sekolah tidak sesederhana memilih antara perangkat digital atau buku cetak.
Dalam kajiannya mengenai waktu layar, OECD mencatat bahwa hampir sepertiga siswa dalam negara-negara OECD melaporkan terdistraksi oleh penggunaan perangkat digital di kelas. Pada saat yang sama, OECD menekankan pentingnya kebijakan yang membantu siswa mengembangkan keterampilan dan perilaku digital, sekaligus mempersiapkan guru untuk menggunakan teknologi secara efektif.
Kajian OECD mengenai pendidikan Swedia yang diterbitkan pada 2026 juga menempatkan penggunaan teknologi digital sebagai salah satu bagian dari evaluasi pengalaman belajar siswa dan hasil PISA 2022. Artinya, perdebatan yang berlangsung di Swedia bukan sekadar soal mengganti tablet dengan buku, melainkan mengenai bagaimana lingkungan belajar dibentuk agar teknologi memberikan manfaat tanpa mengorbankan proses belajar yang mendasar.
Pendekatan tersebut terlihat dalam kebijakan Swedia saat ini. Buku, kertas, dan alat belajar analog kembali mendapatkan ruang yang lebih besar, tetapi teknologi tidak sepenuhnya dikeluarkan dari sekolah. Penggunaannya justru diarahkan agar lebih selektif dan memiliki tujuan pedagogis yang jelas.
Pelajaran untuk Pendidikan di Era Digital
Langkah Swedia membuka pertanyaan yang relevan bagi banyak negara, termasuk Indonesia: apakah digitalisasi pendidikan harus selalu berarti semakin banyak layar?
Pengalaman Swedia menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis mengharuskan seluruh proses belajar dipindahkan ke perangkat digital. Ada kemampuan-kemampuan dasar yang tetap membutuhkan latihan langsung, seperti membaca secara mendalam, menulis tangan, berdiskusi dengan guru, berkonsentrasi, dan membangun kebiasaan membaca.
Pada saat yang sama, mengembalikan buku cetak juga tidak berarti menolak perkembangan teknologi. Tantangannya justru terletak pada menemukan titik keseimbangan: kapan siswa membutuhkan buku, kapan membutuhkan perangkat digital, dan bagaimana guru memastikan keduanya benar-benar digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Swedia kini sedang mencoba menemukan keseimbangan tersebut. Setelah mengalami fase digitalisasi pendidikan yang cukup kuat, negara itu kembali memberi tempat lebih besar kepada buku cetak dan pembelajaran tanpa layar.




